Blog biasa dari orang biasa
Tampilkan postingan dengan label Xfce. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Xfce. Tampilkan semua postingan

12.27.2009

Bisa nggak sih ngetik karakter arabic di Linux? Bisa banget. Ini saya kasih contoh di Zenwalk 6.2, pake Open Office 3.1.


Bagaimana caranya biar bisa ngetik arab? Gampang kok. Saya beri contoh untuk desktop XFCE 4.6.1 bawaan Zenwalk 6.2. Untuk versi sebelumnya bisa jadi belum ada. Untuk Gnome atau KDE, silakan tanya simbah Google. Yang lain, coba dicari juga, mudah-mudahan juga bisa. Oke, kita mulai

Cara pertama, lewat Xfce Settings
1. Buka Keyboard settings dari Menu > Settings > (Xfce Settings Manager) > Keyboard settings
2. Pada jendela Keyboard Settings, pilih Layout


3. Hilangkan contreng (uncheck) Use system defaults
4. Klik Add untuk menambahkan layout arabic pada Keyboard


5. Di jendela Keyboard layout selection, pilih arabic > tipe keyboard (pengguna di Indonesia biasanya qwerty) > OK

6. Selesai. Layout arabic sudah bisa kita pakai di Zenwalk.


Cara kedua, lewat Add Panel
Cara ini lebih mudah dan memudahkan, karena kita juga sekalian menambahkan shortcut dan shortkey untuk mengubah keyboard layout.
1. Klik kanan pada panel, kemudian pilih Add New Items


2. Pilih Keyboard layouts
3. Pada jendela Keyboard Layouts, di bagian Change Layout Option kita bisa mengatur shortkey. Saya memilih Alt+shift. Pilih Add untuk menambahkan layout arabic seperti cara pertama.


4. Di bagian Show layout as, kita bisa pilih image atau text. Kalau memilih image, maka panel Keyboard layout berbentuk gambar bendera, seperti gambar berikut.


5. Selesai. Untuk berpindah layout dari arabic ke us tinggal klik panel, atau tekan shortkey di keyboard (di komputer saya berarti kombinasi Alt+Shift).

Gampang kan? O ya, jangan lupa menginstall font arabic biar bisa ngetik karakter arab. Kalau font belum diinstall ya sama juga bohong. Selamat mencoba.

Bisa nggak sih ngetik karakter arabic di Linux? Bisa banget. Ini saya kasih contoh di Zenwalk 6.2, pake Open Office 3.1.


Bagaimana caranya biar bisa ngetik arab? Gampang kok. Saya beri contoh untuk desktop XFCE 4.6.1 bawaan Zenwalk 6.2. Untuk versi sebelumnya bisa jadi belum ada. Untuk Gnome atau KDE, silakan tanya simbah Google. Yang lain, coba dicari juga, mudah-mudahan juga bisa. Oke, kita mulai

Cara pertama, lewat Xfce Settings
1. Buka Keyboard settings dari Menu > Settings > (Xfce Settings Manager) > Keyboard settings
2. Pada jendela Keyboard Settings, pilih Layout


3. Hilangkan contreng (uncheck) Use system defaults
4. Klik Add untuk menambahkan layout arabic pada Keyboard


5. Di jendela Keyboard layout selection, pilih arabic > tipe keyboard (pengguna di Indonesia biasanya qwerty) > OK

6. Selesai. Layout arabic sudah bisa kita pakai di Zenwalk.


Cara kedua, lewat Add Panel
Cara ini lebih mudah dan memudahkan, karena kita juga sekalian menambahkan shortcut dan shortkey untuk mengubah keyboard layout.
1. Klik kanan pada panel, kemudian pilih Add New Items


2. Pilih Keyboard layouts
3. Pada jendela Keyboard Layouts, di bagian Change Layout Option kita bisa mengatur shortkey. Saya memilih Alt+shift. Pilih Add untuk menambahkan layout arabic seperti cara pertama.


4. Di bagian Show layout as, kita bisa pilih image atau text. Kalau memilih image, maka panel Keyboard layout berbentuk gambar bendera, seperti gambar berikut.


5. Selesai. Untuk berpindah layout dari arabic ke us tinggal klik panel, atau tekan shortkey di keyboard (di komputer saya berarti kombinasi Alt+Shift).

Gampang kan? O ya, jangan lupa menginstall font arabic biar bisa ngetik karakter arab. Kalau font belum diinstall ya sama juga bohong. Selamat mencoba.

11.05.2009

Sudah lebih dari sebulan saya download Zenwalk stable versi terbaru, Zenwalk 6.2. Tapi baru Sabtu kemarin saya install ke komputer (masih bersanding dengan Windows). Kali ini saya tidak kepikiran buat nge-mix Zenwalk dengan Wolvix. Biar bisa lebih hemat kapasitas harddisk.

Apa saja perubahan dan perbaikan yang dibawa Zenwalk 6.2? Berikut ini review asal-asalan dari saya :D. Sebelumnya harap dimaklumi karena komputer saya tidak pernah terhubung dengan internet (makanya saya tidak tahu menahu tentang koneksi internet) dan spec yang pas-pasan (jadi saya juga tidak tahu menahu masalah support tidaknya dengan hardware high-end).


Oke, langsung saja yang pertama, ada perbaikan di desktop manager XFCE. Di versi 6.0, ada bug di resolusi monitor. Saya berkesimpulan, XFCE-nya yang tidak beres. Sebab, di komputer warnet, saya install KDE dan tidak ada masalah dengan resolusi. Zenwalk 6.0 selalu menampilkan resolusi default yang tidak cocok dengan monitor saya (terlalu besar), dan solusi satu-satunya adalah mengedit file /etc/X11/xorg.conf. Bug ini terselesaikan di versi 6.2.

Kedua, Zenwalk 6.2 sudah men-support format file system ext4. Konon ext4 lebih cepat ketimbang pendahulu-pendahulunya, ext2 dan ext3. Saat ini hampir seluruh distro linux sudah mendukung format ini. Ubuntu sudah mensupport ext4 sejak versi 9.04 (bulan kemarin Ubuntu baru saja merilis versi 9.10).

Ketiga, Zenwalk 6.2 mulai menggunakan paket *.txz dan *.tlz untuk paket installernya, bersama dengan paket *.tgz. Paket .txz dan .tlz notabenenya sama dengan .tgz. Hanya saja paket baru ini menggunakan lzma compression menggantikan gzip compression. Lzma membuat paket terkompres menjadi lebih kecil sehingga cd image Zenwalk 6.2 berukuran lebih kecil (hanya 490 MB).

Keempat, waktu booting terasa lebih cepat, tapi entah kenapa waktu shutdown-nya malah jadi lebih lama. Saat shutdown atau reboot, pasti mandeg agak lama di proses updating shared library. Selebihnya lancar-lancar saja.

Kelima, ada fasilitas disk management. Ee... sebenarnya di versi sebelumnya sudah ada, cuma saya baru tahu. T_T Ini fasilitas bawaan XFCE. Disk management ini bukan untuk partisi atau format volume. Fasilitas ini memudahkan kita memuat (mounting) partisi selain /root (dan swap tentunya). Jadi saya tidak perlu lagi mengedit fstab. Disk management membuat partisi lain di-mount di /media sehingga permissionnya otomatis read and write, dan partisi-partisi tersebut otomatis dimuat pas start-up.

Cukup sekian dulu review-nya. Ini screenshot desktop saya saat ini.


Aksesoris-nya cuma wbar, conky, dan analog clock dari screenlets (biar nggak usah mengaktifkan composite). Settingan conky-nya copy paste punya orang, dengan sedikit penyesuaian pastinya. Googling aja dengan keywod conky configuration.

Ever tried Zen computing?

Sudah lebih dari sebulan saya download Zenwalk stable versi terbaru, Zenwalk 6.2. Tapi baru Sabtu kemarin saya install ke komputer (masih bersanding dengan Windows). Kali ini saya tidak kepikiran buat nge-mix Zenwalk dengan Wolvix. Biar bisa lebih hemat kapasitas harddisk.

Apa saja perubahan dan perbaikan yang dibawa Zenwalk 6.2? Berikut ini review asal-asalan dari saya :D. Sebelumnya harap dimaklumi karena komputer saya tidak pernah terhubung dengan internet (makanya saya tidak tahu menahu tentang koneksi internet) dan spec yang pas-pasan (jadi saya juga tidak tahu menahu masalah support tidaknya dengan hardware high-end).


Oke, langsung saja yang pertama, ada perbaikan di desktop manager XFCE. Di versi 6.0, ada bug di resolusi monitor. Saya berkesimpulan, XFCE-nya yang tidak beres. Sebab, di komputer warnet, saya install KDE dan tidak ada masalah dengan resolusi. Zenwalk 6.0 selalu menampilkan resolusi default yang tidak cocok dengan monitor saya (terlalu besar), dan solusi satu-satunya adalah mengedit file /etc/X11/xorg.conf. Bug ini terselesaikan di versi 6.2.

Kedua, Zenwalk 6.2 sudah men-support format file system ext4. Konon ext4 lebih cepat ketimbang pendahulu-pendahulunya, ext2 dan ext3. Saat ini hampir seluruh distro linux sudah mendukung format ini. Ubuntu sudah mensupport ext4 sejak versi 9.04 (bulan kemarin Ubuntu baru saja merilis versi 9.10).

Ketiga, Zenwalk 6.2 mulai menggunakan paket *.txz dan *.tlz untuk paket installernya, bersama dengan paket *.tgz. Paket .txz dan .tlz notabenenya sama dengan .tgz. Hanya saja paket baru ini menggunakan lzma compression menggantikan gzip compression. Lzma membuat paket terkompres menjadi lebih kecil sehingga cd image Zenwalk 6.2 berukuran lebih kecil (hanya 490 MB).

Keempat, waktu booting terasa lebih cepat, tapi entah kenapa waktu shutdown-nya malah jadi lebih lama. Saat shutdown atau reboot, pasti mandeg agak lama di proses updating shared library. Selebihnya lancar-lancar saja.

Kelima, ada fasilitas disk management. Ee... sebenarnya di versi sebelumnya sudah ada, cuma saya baru tahu. T_T Ini fasilitas bawaan XFCE. Disk management ini bukan untuk partisi atau format volume. Fasilitas ini memudahkan kita memuat (mounting) partisi selain /root (dan swap tentunya). Jadi saya tidak perlu lagi mengedit fstab. Disk management membuat partisi lain di-mount di /media sehingga permissionnya otomatis read and write, dan partisi-partisi tersebut otomatis dimuat pas start-up.

Cukup sekian dulu review-nya. Ini screenshot desktop saya saat ini.


Aksesoris-nya cuma wbar, conky, dan analog clock dari screenlets (biar nggak usah mengaktifkan composite). Settingan conky-nya copy paste punya orang, dengan sedikit penyesuaian pastinya. Googling aja dengan keywod conky configuration.

Ever tried Zen computing?

7.25.2009

Setelah lama tidak menyentuh LXDE, rasanya saya mulai jatuh hati lagi dengan desktop environment yang satu ini. Gara-garanya saya mulai bisa bermain-main dengan tampilannya yang menawan. Xfce sekarang mulai saya tinggalkan.. :D

LXDE, Lighweight X11 Desktop Environment, adalah salah satu desktop environment di Linux. Lighweight, fast, and modern, begitu jargon mereka. Ringan, cepat, dan modern. Nampaknya LXDE memang diperuntukkan bagi yang menginginkan performa menawan tanpa melupakan keindahan penampilan.

Lalu bagaimanakah saya bisa kembali jatuh hati? Berikut ini sedikit ilmu yang bisa saya pelajari dan share di blog ini.

Membuat dan Memodifikasi Shortcut Desktop

Ini satu hal yang tidak saya pahami sebelumnya. Ini juga yang membuat saya pernah 'mencampakkan' LXDE. Sampai akhirnya saya mulai mengoprek cara membuat shortcut desktop dalam lingkungan LXDE.

Tidak seperti di Xfce atau GNome, yang cukup mudah dengan klik kanan lalu create launcher, saya menemukan cara yang berbeda tapi ternyata tetap gampang. Kita bisa membuat shortcut desktop dengan meng copy-paste atau membuat link file *.desktop yang ada di direktori /usr/share/applications. Misalnya kita ingin membuat shortcut untuk GIMP, cukup copy file gimp.desktop ke /home/user/Desktop.

Bagaimana kalai kita ingin mengganti icon-nya? Karena modus graphical tidak tersedia (ada sih.. tapi di linux saya belum terinstall), maka jalan satu-satunya adalah dengan diedit. Kita bisa mengedit *.dektop dengan mousepad atau editor lain dan memodifikasinya agar sesuai keinginan kita.
Saya dapat satu ilmu lagi deh..., gara-gara pakai linux..


Memodifikasi Panel

Lxpanel, panelnya LXDE, secara default nampak berwarna hitam seperti panel pada windows Vista. Tapi panel ini bisa dikustomisasi dengan mudah dengan modus graphical. Kita bisa ubah warna panel dengan background lain, dibuat transparan, atau kita set agar mengikuti tema yang kita gunakan. Kita juga bisa dengan mudah menambah quick launch dan item-item lainnya.

Tapi saya sangat tertarik mengganti icon pada LXDE menu yang ternyata tidak bisa diubah dengan modus GUI. Sekali lagi, jalan satu-satunya adalah dengan mengedit. File yang mana yang bisa diedit? Setelah muter-muter mencari, filenya saya temukan di /home/user/.config/lxpanel/LXDE/panel. File panel ini bisa kita edit agar menampilkan icon yang kita inginkan.

Karena sudah tahu caranya, saya ingin membuat panel ini nampak seperti windows XP. Maka saya pun membuat image untuk menu dan background panel. Jadilah seperti screenshot berikut ini. Lumayan mirip kan panelnya?


Dua ilmu saya peroleh.. Alhamdulillah...

Dan ilmu ini saya coba praktekkan pada windows XP saya. Tidak banyak memang, hanya saya jadi bisa mengedit file *.theme untuk mengakali theme buat XP yang sudah saya dapatkan. Insya Allah akan saya bahas di artikel mendatang.

Oke, sekian dulu ya... Seperti LXDE bilang, lets speed up your desktop!

Setelah lama tidak menyentuh LXDE, rasanya saya mulai jatuh hati lagi dengan desktop environment yang satu ini. Gara-garanya saya mulai bisa bermain-main dengan tampilannya yang menawan. Xfce sekarang mulai saya tinggalkan.. :D

LXDE, Lighweight X11 Desktop Environment, adalah salah satu desktop environment di Linux. Lighweight, fast, and modern, begitu jargon mereka. Ringan, cepat, dan modern. Nampaknya LXDE memang diperuntukkan bagi yang menginginkan performa menawan tanpa melupakan keindahan penampilan.

Lalu bagaimanakah saya bisa kembali jatuh hati? Berikut ini sedikit ilmu yang bisa saya pelajari dan share di blog ini.

Membuat dan Memodifikasi Shortcut Desktop

Ini satu hal yang tidak saya pahami sebelumnya. Ini juga yang membuat saya pernah 'mencampakkan' LXDE. Sampai akhirnya saya mulai mengoprek cara membuat shortcut desktop dalam lingkungan LXDE.

Tidak seperti di Xfce atau GNome, yang cukup mudah dengan klik kanan lalu create launcher, saya menemukan cara yang berbeda tapi ternyata tetap gampang. Kita bisa membuat shortcut desktop dengan meng copy-paste atau membuat link file *.desktop yang ada di direktori /usr/share/applications. Misalnya kita ingin membuat shortcut untuk GIMP, cukup copy file gimp.desktop ke /home/user/Desktop.

Bagaimana kalai kita ingin mengganti icon-nya? Karena modus graphical tidak tersedia (ada sih.. tapi di linux saya belum terinstall), maka jalan satu-satunya adalah dengan diedit. Kita bisa mengedit *.dektop dengan mousepad atau editor lain dan memodifikasinya agar sesuai keinginan kita.
Saya dapat satu ilmu lagi deh..., gara-gara pakai linux..


Memodifikasi Panel

Lxpanel, panelnya LXDE, secara default nampak berwarna hitam seperti panel pada windows Vista. Tapi panel ini bisa dikustomisasi dengan mudah dengan modus graphical. Kita bisa ubah warna panel dengan background lain, dibuat transparan, atau kita set agar mengikuti tema yang kita gunakan. Kita juga bisa dengan mudah menambah quick launch dan item-item lainnya.

Tapi saya sangat tertarik mengganti icon pada LXDE menu yang ternyata tidak bisa diubah dengan modus GUI. Sekali lagi, jalan satu-satunya adalah dengan mengedit. File yang mana yang bisa diedit? Setelah muter-muter mencari, filenya saya temukan di /home/user/.config/lxpanel/LXDE/panel. File panel ini bisa kita edit agar menampilkan icon yang kita inginkan.

Karena sudah tahu caranya, saya ingin membuat panel ini nampak seperti windows XP. Maka saya pun membuat image untuk menu dan background panel. Jadilah seperti screenshot berikut ini. Lumayan mirip kan panelnya?


Dua ilmu saya peroleh.. Alhamdulillah...

Dan ilmu ini saya coba praktekkan pada windows XP saya. Tidak banyak memang, hanya saya jadi bisa mengedit file *.theme untuk mengakali theme buat XP yang sudah saya dapatkan. Insya Allah akan saya bahas di artikel mendatang.

Oke, sekian dulu ya... Seperti LXDE bilang, lets speed up your desktop!

6.08.2009

Ini dia multimedia player paling ringan yang pernah saya gunakan di Linux, Xfmedia. Sebelum menggunakan xfmedia, untuk memutar mp3 saya terbiasa memakai audacious yang mirip winamp itu. Audacious juga ringan, tapi xfmedia jauh lebih ringan.


Pada komputer saya, saat komputer terlalu sibuk, misalnya sedang main-main GIMP yang memakan banyak memori, biasanya audacious tersendat-sendat suaranya atau bahkan tak bersuara sama sekali sampai keadaan kembali normal. Saat proses minimize atau restore saja, audacious sering tersendat. Tapi dengan xfmedia, ketidaknyamanan ini belum pernah saya alami.

Tampilan xfmedia memang biasa saja. Bahkan terlalu sederhana jika dibanding aplikasi player yang lain. Tapi performanya tidak bisa dianggap biasa. Kesederhanaannya inilah salah satu sebab yang membuat xfmedia menjadi ringan. Jangan tanya soal skin. Soal tampilan GUI, Xfmedia berbasis GTK+. Jadi Xfmedia menyesuaikan tema GTK yang kita gunakan.

Xfmedia merupakan salah satu project Xfce yang ditujukan terutama untuk pengguna desktop Xfce. Xfmedia dikembangkan dengan berbasis pada xine-lib. Kalau xine-lib sudah terinstall di Linux kita, kita tidak usah pusing memikirkan dependensinya. Karena berbasis xine, xfmedia tidak hanya bisa memutar file audio, tapi juga bisa berfungsi sebagai video player.

Ini dia multimedia player paling ringan yang pernah saya gunakan di Linux, Xfmedia. Sebelum menggunakan xfmedia, untuk memutar mp3 saya terbiasa memakai audacious yang mirip winamp itu. Audacious juga ringan, tapi xfmedia jauh lebih ringan.


Pada komputer saya, saat komputer terlalu sibuk, misalnya sedang main-main GIMP yang memakan banyak memori, biasanya audacious tersendat-sendat suaranya atau bahkan tak bersuara sama sekali sampai keadaan kembali normal. Saat proses minimize atau restore saja, audacious sering tersendat. Tapi dengan xfmedia, ketidaknyamanan ini belum pernah saya alami.

Tampilan xfmedia memang biasa saja. Bahkan terlalu sederhana jika dibanding aplikasi player yang lain. Tapi performanya tidak bisa dianggap biasa. Kesederhanaannya inilah salah satu sebab yang membuat xfmedia menjadi ringan. Jangan tanya soal skin. Soal tampilan GUI, Xfmedia berbasis GTK+. Jadi Xfmedia menyesuaikan tema GTK yang kita gunakan.

Xfmedia merupakan salah satu project Xfce yang ditujukan terutama untuk pengguna desktop Xfce. Xfmedia dikembangkan dengan berbasis pada xine-lib. Kalau xine-lib sudah terinstall di Linux kita, kita tidak usah pusing memikirkan dependensinya. Karena berbasis xine, xfmedia tidak hanya bisa memutar file audio, tapi juga bisa berfungsi sebagai video player.

6.07.2009

Saya sangat tertarik dengan banyak screenshot Linux yang menampilkan jendela-jendela aplikasi yang transparan, sehingga gambar background di desktop kelihatan. Juga efek 3D yang menarik. Saat itu saya hanya bertanya-tanya, bagaimana ya caranya biar bisa kaya' gitu? Harus diinstall apalagi Linux-ku ini?


Ternyata eh ternyata, Xfce sudah mendukung efek transparan ini. Tingal mengaktifkan saja. Untuk efek 3D, saya harus menginstall compiz fusion dulu. Pernah saya coba, tapi si compiz bilang, VGA komputer saya nggak support :,(

Nah bagaimana cara mengaktifkan efek transparan Xfce? Kita bisa mengaktifkannya lewat menu Compositor di Window Manager Tweaks (Menu > Settings > Window Manager Tweaks). Check (centang) pada pilihan Enable display compositing. Pilihan ini tidak hanya mengaktifkan efek transparan, tapi juga efek bayangan (shadow). Setelah itu tinggal kita atur sesuai keinginan kita.

Saya sangat tertarik dengan banyak screenshot Linux yang menampilkan jendela-jendela aplikasi yang transparan, sehingga gambar background di desktop kelihatan. Juga efek 3D yang menarik. Saat itu saya hanya bertanya-tanya, bagaimana ya caranya biar bisa kaya' gitu? Harus diinstall apalagi Linux-ku ini?


Ternyata eh ternyata, Xfce sudah mendukung efek transparan ini. Tingal mengaktifkan saja. Untuk efek 3D, saya harus menginstall compiz fusion dulu. Pernah saya coba, tapi si compiz bilang, VGA komputer saya nggak support :,(

Nah bagaimana cara mengaktifkan efek transparan Xfce? Kita bisa mengaktifkannya lewat menu Compositor di Window Manager Tweaks (Menu > Settings > Window Manager Tweaks). Check (centang) pada pilihan Enable display compositing. Pilihan ini tidak hanya mengaktifkan efek transparan, tapi juga efek bayangan (shadow). Setelah itu tinggal kita atur sesuai keinginan kita.

6.06.2009

Di windows vista atau MacOS, kita biasa menjumpai launchbar yang sangat menarik. Berupa ikon-ikon yang berloncatan ketika dilewati mouse. Kalau di klik, fungsinya sama dengan shortcut di desktop, memunculkan aplikasi tertentu.

Di Linux pun kita bisa melakukan hal yang sama. Ada banyak pilihan launchbar seperti ini, misalnya Awn, sim-dock, atau wbar. Karena sejak awal saya suka yang ringan, sejalan dengan alasan memilih Xfce, maka disini hanya membahas wbar (sebenarnya sih karena belum pernah coba yang lain.. :D)


Pertama, kita install dulu aplikasi ini. Sourcenya bisa diunduh di sini. Juga tersedia paket *.deb untuk debian dan turunannya. Untuk paket zenwalk (*.tgz), bisa kita unduh di link ini.

Setelah terinstall, kita coba jalankan dengan mengetik perintah seperti ini di terminal

$ wbar -above-desk -bpress

List lengkap perintahnya bisa kita baca di ReadMe atau dengan perintah wbar -help. Wbar tidak berjalan jika hanya dengan perintah wbar.

Selanjutnya kita kustomisasi agar wbar menampilkan ikon-ikon sesuai keinginan kita. Ada 2 cara untuk keperluan ini. Cara pertama dengan mengedit file .wbar. Copy file bernama dot.wbar yang ada di /usr/share/wbar ke direktori home kita (/home/nama-user). Kemudian kita rename menjadi .wbar. File ini akan jadi hidden file.

Kita buka file ini dengan text editor, misalnya mousepad. Disitu ada kode i, c, dan t. 'i' kita isi dengan lokasi icon, 'c' dengan perintah untuk mengeksekusi program, dan 't' dengan nama aplikasinya. Misalnya kita ingin membuat launchbar untuk Openoffice Writer, dengan ikon MacUltimate_Leopard. Maka kita ediit jadi seperti ini

i: /usr/share/icons/MacUltimate_Leopard/scalable/apps/ooo-writer.png
c: swriter
t: OOo-Writer

Cara kedua, yang lebih mudah, yaitu dengan wbarconf (Wbar configuration). Source dan paket *.deb bisa didownload di sini. Pada paket wbar-nya zenwalk, wbarconf sudah include di dalamnya. Wbarconf ini menyediakan grapical user interface untuk memodifikasi tampilan wbar. Jadi tidak perlu mengedit file .wbar, cukup klik-klik-klik dengan mouse.


Puas mengutak-atik wbar configuration? Jangan lupa di-save. Klik refresh untuk melihat hasilnya. Sekarang kita tinggal membuat aplikasi ini otomatis berjalan ketika start-up. Kita bisa menambahkan wbar di autostart application (Menu > Settings/ Xfce Settings Manager > Session and Startup). Command-nya paling gampang kita copy-paste dari file .wbar, agar sesuai seperti yang kita atur melalui wbar configuration (copy baris yang diapit tanda “...” pada bagian wbar command=).

Screenshot
1. wbar di komputerku
desktop wallpaper : AkhmadGuntar.com

2. wbarconf di ubuntu (www.deviceguru.com)

Di windows vista atau MacOS, kita biasa menjumpai launchbar yang sangat menarik. Berupa ikon-ikon yang berloncatan ketika dilewati mouse. Kalau di klik, fungsinya sama dengan shortcut di desktop, memunculkan aplikasi tertentu.

Di Linux pun kita bisa melakukan hal yang sama. Ada banyak pilihan launchbar seperti ini, misalnya Awn, sim-dock, atau wbar. Karena sejak awal saya suka yang ringan, sejalan dengan alasan memilih Xfce, maka disini hanya membahas wbar (sebenarnya sih karena belum pernah coba yang lain.. :D)


Pertama, kita install dulu aplikasi ini. Sourcenya bisa diunduh di sini. Juga tersedia paket *.deb untuk debian dan turunannya. Untuk paket zenwalk (*.tgz), bisa kita unduh di link ini.

Setelah terinstall, kita coba jalankan dengan mengetik perintah seperti ini di terminal

$ wbar -above-desk -bpress

List lengkap perintahnya bisa kita baca di ReadMe atau dengan perintah wbar -help. Wbar tidak berjalan jika hanya dengan perintah wbar.

Selanjutnya kita kustomisasi agar wbar menampilkan ikon-ikon sesuai keinginan kita. Ada 2 cara untuk keperluan ini. Cara pertama dengan mengedit file .wbar. Copy file bernama dot.wbar yang ada di /usr/share/wbar ke direktori home kita (/home/nama-user). Kemudian kita rename menjadi .wbar. File ini akan jadi hidden file.

Kita buka file ini dengan text editor, misalnya mousepad. Disitu ada kode i, c, dan t. 'i' kita isi dengan lokasi icon, 'c' dengan perintah untuk mengeksekusi program, dan 't' dengan nama aplikasinya. Misalnya kita ingin membuat launchbar untuk Openoffice Writer, dengan ikon MacUltimate_Leopard. Maka kita ediit jadi seperti ini

i: /usr/share/icons/MacUltimate_Leopard/scalable/apps/ooo-writer.png
c: swriter
t: OOo-Writer

Cara kedua, yang lebih mudah, yaitu dengan wbarconf (Wbar configuration). Source dan paket *.deb bisa didownload di sini. Pada paket wbar-nya zenwalk, wbarconf sudah include di dalamnya. Wbarconf ini menyediakan grapical user interface untuk memodifikasi tampilan wbar. Jadi tidak perlu mengedit file .wbar, cukup klik-klik-klik dengan mouse.


Puas mengutak-atik wbar configuration? Jangan lupa di-save. Klik refresh untuk melihat hasilnya. Sekarang kita tinggal membuat aplikasi ini otomatis berjalan ketika start-up. Kita bisa menambahkan wbar di autostart application (Menu > Settings/ Xfce Settings Manager > Session and Startup). Command-nya paling gampang kita copy-paste dari file .wbar, agar sesuai seperti yang kita atur melalui wbar configuration (copy baris yang diapit tanda “...” pada bagian wbar command=).

Screenshot
1. wbar di komputerku
desktop wallpaper : AkhmadGuntar.com

2. wbarconf di ubuntu (www.deviceguru.com)

Salah satu keunggulan Linux adalah kita bisa memilih lingkungan desktop (desktop environment) yang kita suka. Ada berbagai macam desktop environment yang tersedia di Linux, misalnya Gnome, KDE, Xfce, LXDE, dan lainnya. GNome saat ini paling banyak digunakan pengguna Linux. KDE punya tampilan yang sangat indah, meskipun lebih berat. Xfce agak mirip GNome, namun jauh lebih ringan. LXDE menurut pengalaman saya lebih ringan dari Xfce, tapi belum begitu populer.

Dalam artikel ini saya akan menuliskan tips memperindah tampilan Xfce desktop. Ini desktop favorit saya, karena enteng dan pas dengan kondisi komputer yang saya pakai ^_^ Sebenarnya pernah juga pindah ke lain hati. Kepincut sama LXDE yang lebih ringan dan terlihat elegan. Tapi lama-lama bosen juga karena LXDE masih susah dikostumisasi.

Oke, salah satu cara untuk mempercantik tampilan Xfce, yang paling mudah, tentu saja dengan mengganti tema (themes) dan ikonnya. Kita bisa mendapatkan beraneka ragam themes dan ikon untuk Xfce di situs xfce-look.org. Tinggal pilih yang kita suka (bisa lihat-lihat screenshot-nya dulu), dan bisa didownload secara gratis (gue banget nih..).


Untuk themes dikategorikan menjadi Gtk 1.x, Gtk 2.x, dan Xfce. Tema Gtk berfungsi mengubah tampilan badan dan panel Xfce. Sedangkan xfce untuk xfwm-nya (tampilan window managernya). Window manager itu mudahnya yang ada icon close, maximize, minimize, dan title jendela yang kita buka. Saya paling suka tema-tema MacOS. Semua orang tahu, sistem operasi milik Apple ini sangat indah.

Icon yang tersedia juga cukup banyak. Tapi tidak semua icon lengkap. Ada yang hanya ikon-ikon weather, battery, atau cuma beberapa aplikasi. Favorit saya sekali lagi icon bernuansa Mac. Kalau masih belum puas, kita bisa jalan-jalan di gnome-look.org atau kde-look.org. Kebanyakan tema-tema Gnome, karena sama-sama Gtk, dan iconnya bisa digunakan di Xfce. KDE mungkin hanya bisa dimanfaatkan icon-nya saja. Banyak ikon yang bagus di KDE.

Setelah kita download (dalam bentuk archive), kita ekstrak dan copy tema (baik yang Gtk maupun xfce) ke /usr/share/themes. Untuk icon dicopy ke /usr/share/icons. Tentu saja kita harus punya hak akses root untuk copy-paste ke direktori tersebut.

Paling enak kita ekstrak dan copy-paste via terminal. Nggak susah kok. Buka terminal di direktori/ folder tempat kita menyimpan file theme dan icon. Saya biasanya cukup klik kanan pada file manager, kemudian klik pilihan open terminal

$ su
Password:
# tar -xzf nama-file-tema.tar.gz -C /usr/share/themes
# tar -xzf nama-file-ikon.tar.gz -C /usr/share/icons

-xzf diganti dengan -xjf jika archive-nya berformat *.tar.bz2

Sekarang tinggal buka setting managernya. Di Xfce terbaru, untuk mengutak-atik tema Gtk dan ikon ada di menu Appearance (Menu > Settings > Appearance). Window managernya (xfwm) bisa dipilih di menu Window Manager (Menu > Settings > Window Manager). Selamat memilih sesuai selera.

Screenshot
File manager : Thunar
GTK-2.x Theme : Mac-OSX (mac-osx-bundle)
Xfce Theme : Gnububble
Icon : OSX-Alumunium
wbar

Salah satu keunggulan Linux adalah kita bisa memilih lingkungan desktop (desktop environment) yang kita suka. Ada berbagai macam desktop environment yang tersedia di Linux, misalnya Gnome, KDE, Xfce, LXDE, dan lainnya. GNome saat ini paling banyak digunakan pengguna Linux. KDE punya tampilan yang sangat indah, meskipun lebih berat. Xfce agak mirip GNome, namun jauh lebih ringan. LXDE menurut pengalaman saya lebih ringan dari Xfce, tapi belum begitu populer.

Dalam artikel ini saya akan menuliskan tips memperindah tampilan Xfce desktop. Ini desktop favorit saya, karena enteng dan pas dengan kondisi komputer yang saya pakai ^_^ Sebenarnya pernah juga pindah ke lain hati. Kepincut sama LXDE yang lebih ringan dan terlihat elegan. Tapi lama-lama bosen juga karena LXDE masih susah dikostumisasi.

Oke, salah satu cara untuk mempercantik tampilan Xfce, yang paling mudah, tentu saja dengan mengganti tema (themes) dan ikonnya. Kita bisa mendapatkan beraneka ragam themes dan ikon untuk Xfce di situs xfce-look.org. Tinggal pilih yang kita suka (bisa lihat-lihat screenshot-nya dulu), dan bisa didownload secara gratis (gue banget nih..).


Untuk themes dikategorikan menjadi Gtk 1.x, Gtk 2.x, dan Xfce. Tema Gtk berfungsi mengubah tampilan badan dan panel Xfce. Sedangkan xfce untuk xfwm-nya (tampilan window managernya). Window manager itu mudahnya yang ada icon close, maximize, minimize, dan title jendela yang kita buka. Saya paling suka tema-tema MacOS. Semua orang tahu, sistem operasi milik Apple ini sangat indah.

Icon yang tersedia juga cukup banyak. Tapi tidak semua icon lengkap. Ada yang hanya ikon-ikon weather, battery, atau cuma beberapa aplikasi. Favorit saya sekali lagi icon bernuansa Mac. Kalau masih belum puas, kita bisa jalan-jalan di gnome-look.org atau kde-look.org. Kebanyakan tema-tema Gnome, karena sama-sama Gtk, dan iconnya bisa digunakan di Xfce. KDE mungkin hanya bisa dimanfaatkan icon-nya saja. Banyak ikon yang bagus di KDE.

Setelah kita download (dalam bentuk archive), kita ekstrak dan copy tema (baik yang Gtk maupun xfce) ke /usr/share/themes. Untuk icon dicopy ke /usr/share/icons. Tentu saja kita harus punya hak akses root untuk copy-paste ke direktori tersebut.

Paling enak kita ekstrak dan copy-paste via terminal. Nggak susah kok. Buka terminal di direktori/ folder tempat kita menyimpan file theme dan icon. Saya biasanya cukup klik kanan pada file manager, kemudian klik pilihan open terminal

$ su
Password:
# tar -xzf nama-file-tema.tar.gz -C /usr/share/themes
# tar -xzf nama-file-ikon.tar.gz -C /usr/share/icons

-xzf diganti dengan -xjf jika archive-nya berformat *.tar.bz2

Sekarang tinggal buka setting managernya. Di Xfce terbaru, untuk mengutak-atik tema Gtk dan ikon ada di menu Appearance (Menu > Settings > Appearance). Window managernya (xfwm) bisa dipilih di menu Window Manager (Menu > Settings > Window Manager). Selamat memilih sesuai selera.

Screenshot
File manager : Thunar
GTK-2.x Theme : Mac-OSX (mac-osx-bundle)
Xfce Theme : Gnububble
Icon : OSX-Alumunium
wbar