Blog biasa dari orang biasa
Tampilkan postingan dengan label Freeware. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Freeware. Tampilkan semua postingan

10.14.2010

Lagi nggak ada bahan menarik buat diposting. Jadi saya pengen berbagi saja tentang Audio Player di Linux. Mungkin bermanfaat buat temen-temen yang baru coba-coba menggunakan Linux.
Ada banyak audio player yang sudah dibuat untuk Linux. Berikut ini yang, setidak-tidaknya pernah, saya pakai. Dan sebatas yang pake GUI, bukan CLI.

Amarok
Amarok, salah satu favorit saya. Jadi default player kalo pake KDE, dan memang identik dengan KDE. Amarok menggunakan library Xine. Audio library-nya paling asyik buat mengatur file audio kita. Punya preset equalizer yang bikin tambah maknyus output suaranya. Saya kasih nilai 9 deh buat Amarok.

Exaile


Exaile ini kembarannya Amarok, tapi versi GTK. Librarynya pake GStreamer. Punya audio library juga, meskipun nggak sebagus Amarok. Tapi tetep asyik kok. Equalizer juga ada. Plugin-nya banyak, diantaranya bisa menampilkan cover album di desktop. Kalo menurut saya, nilainya 8.

Consonance


Consonance Sepertinya tidak populer. Mirip Exaile tapi lebih simple. Audio library-nya juga sederhana, nggak asyik tapi cukup memudahkan. Yang saya suka dari Consonance itu enteng. 7 bolehlah buat player satu ini.

Xfmedia


Sudah pernah saya tulis di sini. Enteng dan nggak neko-neko. Cukup tombol standar multimedia player, plus playlist. Cocok buat yang nggak ambil pusing dengan pengelolaan file audio. Asal masuk playlist terus puter aja. O iya, xfmedia juga bisa muter file video, tentu saja dengan kesederhanannya.

Sonata


Namanya mengingatkan saya pada bang haji :D Eh... beda ding, itu Soneta. Sonata merupakan GUI front-end-nya mpd (music player daemon). MPD sendiri adalah mp3 player tapi text based. Kapan-kapan saya mau posting audio player yang text based.

Quod Libet


Quod Libet dibuat pake python. Audio library-nya cukup bagus untuk mengatur file audio. Sepaket dengan Quod Libet, ada Ex Falso yang berfungsi sebagai tag editor. Audio metadata-nya dihandle oleh Mutagen. Maka kalo anda download Quod Libet, jangan lupa download juga mutagen.

Seperti kebanyakan program lain yang pake python, QuodLibet bisa jalan meskipun tidak diinstall. Kalo mau install, cukup ./setup.py build dan ./setup.py install

Audacious
Player ini mirip winamp. Dulu awal-awal pake linux sih seneng banget pake audacious. Tapi setelah kenal player lain, saya cenderung nggak suka player ini. Berat dan sering ngelag di PC saya.

XMMS
XMMS ini pendahulunya audacious. Saya juga nggak terlalu suka XMMS. Kalo dibanding audacious, XMMS menurut saya agak kuno. Ada juga project penerusnya, XMMS2. Saya nggak tahu kalo yang ini. Tapi akan saya coba karena sekalian pengen coba LXMusic (salah satu LXDE project).

Masih ada banyak player yang lain, misalnya Rythmbox, Banshee, Gmusicbrowser, dan lain-lain. Tinggal pilih yang sreg saja.

Lagi nggak ada bahan menarik buat diposting. Jadi saya pengen berbagi saja tentang Audio Player di Linux. Mungkin bermanfaat buat temen-temen yang baru coba-coba menggunakan Linux.
Ada banyak audio player yang sudah dibuat untuk Linux. Berikut ini yang, setidak-tidaknya pernah, saya pakai. Dan sebatas yang pake GUI, bukan CLI.

Amarok
Amarok, salah satu favorit saya. Jadi default player kalo pake KDE, dan memang identik dengan KDE. Amarok menggunakan library Xine. Audio library-nya paling asyik buat mengatur file audio kita. Punya preset equalizer yang bikin tambah maknyus output suaranya. Saya kasih nilai 9 deh buat Amarok.

Exaile


Exaile ini kembarannya Amarok, tapi versi GTK. Librarynya pake GStreamer. Punya audio library juga, meskipun nggak sebagus Amarok. Tapi tetep asyik kok. Equalizer juga ada. Plugin-nya banyak, diantaranya bisa menampilkan cover album di desktop. Kalo menurut saya, nilainya 8.

Consonance


Consonance Sepertinya tidak populer. Mirip Exaile tapi lebih simple. Audio library-nya juga sederhana, nggak asyik tapi cukup memudahkan. Yang saya suka dari Consonance itu enteng. 7 bolehlah buat player satu ini.

Xfmedia


Sudah pernah saya tulis di sini. Enteng dan nggak neko-neko. Cukup tombol standar multimedia player, plus playlist. Cocok buat yang nggak ambil pusing dengan pengelolaan file audio. Asal masuk playlist terus puter aja. O iya, xfmedia juga bisa muter file video, tentu saja dengan kesederhanannya.

Sonata


Namanya mengingatkan saya pada bang haji :D Eh... beda ding, itu Soneta. Sonata merupakan GUI front-end-nya mpd (music player daemon). MPD sendiri adalah mp3 player tapi text based. Kapan-kapan saya mau posting audio player yang text based.

Quod Libet


Quod Libet dibuat pake python. Audio library-nya cukup bagus untuk mengatur file audio. Sepaket dengan Quod Libet, ada Ex Falso yang berfungsi sebagai tag editor. Audio metadata-nya dihandle oleh Mutagen. Maka kalo anda download Quod Libet, jangan lupa download juga mutagen.

Seperti kebanyakan program lain yang pake python, QuodLibet bisa jalan meskipun tidak diinstall. Kalo mau install, cukup ./setup.py build dan ./setup.py install

Audacious
Player ini mirip winamp. Dulu awal-awal pake linux sih seneng banget pake audacious. Tapi setelah kenal player lain, saya cenderung nggak suka player ini. Berat dan sering ngelag di PC saya.

XMMS
XMMS ini pendahulunya audacious. Saya juga nggak terlalu suka XMMS. Kalo dibanding audacious, XMMS menurut saya agak kuno. Ada juga project penerusnya, XMMS2. Saya nggak tahu kalo yang ini. Tapi akan saya coba karena sekalian pengen coba LXMusic (salah satu LXDE project).

Masih ada banyak player yang lain, misalnya Rythmbox, Banshee, Gmusicbrowser, dan lain-lain. Tinggal pilih yang sreg saja.

10.05.2010

Mau bikin animasi GIF dari video/ clip? Nggak perlu nyari software bajakan...! Cukup pake software open source dan gratis, GIMP plus GIMP Animation Package (GAP). Yup, dengan GIMP animation package, kita bisa membuat animasi gif dari video favorit kita. Bagaimana caranya?


1. Klik Video > Split Video into frames > Extract Videorange

2. Buka file video yang mau kita buat GIF


3. Biar lebih enak, klik video range, di sebelahnya nanti muncul kaya gini


plus kotak dialog ini


4. Tentukan awal frame dan frame terakhir

5. Kita lihat lagi yang di kiri


6. OK

7. Kalo mau me-resize ukuran, klik Image > Scale Image


8. Save dengan ekstensi .gif, atau di-optimize dulu biar ukuran file-nya lebih kecil

Mau bikin animasi GIF dari video/ clip? Nggak perlu nyari software bajakan...! Cukup pake software open source dan gratis, GIMP plus GIMP Animation Package (GAP). Yup, dengan GIMP animation package, kita bisa membuat animasi gif dari video favorit kita. Bagaimana caranya?


1. Klik Video > Split Video into frames > Extract Videorange

2. Buka file video yang mau kita buat GIF


3. Biar lebih enak, klik video range, di sebelahnya nanti muncul kaya gini


plus kotak dialog ini


4. Tentukan awal frame dan frame terakhir

5. Kita lihat lagi yang di kiri


6. OK

7. Kalo mau me-resize ukuran, klik Image > Scale Image


8. Save dengan ekstensi .gif, atau di-optimize dulu biar ukuran file-nya lebih kecil

9.23.2010


Lagi iseng browse package database-nya Zenwalk, saya nemu aplikasi yang keren dan sangat berguna. Namanya Klavaro. Ini aplikasi yang cocok buat anda (dan saya) yang cuma bisa ngetik 11 jari (10 jari tangan tambah 1 jari kaki kali ya... :D ), tapi pengen bisa ngetik 10 jari.

Ya, Klavaro adalah software untuk Typing Tutor, untuk belajar mengetik 10 jari secara cepat dan tepat. Dibuat oleh Felipe Castro dan Petr Machata, dengan lisensi GNU GPL v3. Mendukung beberapa layout Keyboard dan beberapa bahasa. Sayangnya belum ada bahasa Indonesia :(


Di menu utamanya, kita bisa menemukan 5 menu, mulai dari Introduction sampai Fluidity. Menu-menu ini akan mengajari kita secara bertahap dari basic sampai mahir. Menu introduction akan mengenalkan kita yang pemula bagaimana cara memencet tombol keyboard, jari mana yang digunakan untuk memencet suatu tombol. Kemudian ada 5 step untuk mulai melatih satu per satu jari kita.


Mulai menu Basic course, kita diberi semacam game. Diawali dengan yang sederhana, cuma mencet F, J dan spasi yang diulang-ulang secara random. Buat saya, cuma mencet 3 tombol itu aja rasanya susah tanpa melakukan kesalahan.. :D Sampai menu terakhir, Fluidity, kita ditantang mengetikkan teks yang kompleks beberapa paragraf. Ada progress report-nya juga untuk mengetahui perkembangan kemampuan mengetik kita.

Anda yang memakai Zenwalk, bisa download di sini. Jangan lupa dicek dependensi-nya. Yang lain cari di repo masing-masing distro ya.. Atau bisa cari paket atau source code-nya di klavaro.sourceforge.net/. Buat windows dan MacOSX juga ada. Nanti kalau sudah pinter ngetik 'kan bisa buka usaha pengetikan.. v^^
Salam


Lagi iseng browse package database-nya Zenwalk, saya nemu aplikasi yang keren dan sangat berguna. Namanya Klavaro. Ini aplikasi yang cocok buat anda (dan saya) yang cuma bisa ngetik 11 jari (10 jari tangan tambah 1 jari kaki kali ya... :D ), tapi pengen bisa ngetik 10 jari.

Ya, Klavaro adalah software untuk Typing Tutor, untuk belajar mengetik 10 jari secara cepat dan tepat. Dibuat oleh Felipe Castro dan Petr Machata, dengan lisensi GNU GPL v3. Mendukung beberapa layout Keyboard dan beberapa bahasa. Sayangnya belum ada bahasa Indonesia :(


Di menu utamanya, kita bisa menemukan 5 menu, mulai dari Introduction sampai Fluidity. Menu-menu ini akan mengajari kita secara bertahap dari basic sampai mahir. Menu introduction akan mengenalkan kita yang pemula bagaimana cara memencet tombol keyboard, jari mana yang digunakan untuk memencet suatu tombol. Kemudian ada 5 step untuk mulai melatih satu per satu jari kita.


Mulai menu Basic course, kita diberi semacam game. Diawali dengan yang sederhana, cuma mencet F, J dan spasi yang diulang-ulang secara random. Buat saya, cuma mencet 3 tombol itu aja rasanya susah tanpa melakukan kesalahan.. :D Sampai menu terakhir, Fluidity, kita ditantang mengetikkan teks yang kompleks beberapa paragraf. Ada progress report-nya juga untuk mengetahui perkembangan kemampuan mengetik kita.

Anda yang memakai Zenwalk, bisa download di sini. Jangan lupa dicek dependensi-nya. Yang lain cari di repo masing-masing distro ya.. Atau bisa cari paket atau source code-nya di klavaro.sourceforge.net/. Buat windows dan MacOSX juga ada. Nanti kalau sudah pinter ngetik 'kan bisa buka usaha pengetikan.. v^^
Salam

7.19.2010


Serious Samurize atau singkatnya Samurize adalah salah satu software monitoring yang free. Fungsinya untuk menampilkan informasi system yang sedang bekerja pada komputer kita secara realtime dalam bentuk grafis di desktop kita. Kita bisa melihat aktivitas CPU load, RAM yang dipakai, kapasitas HDD, dan masih banyak lagi.

Software semacam ini yang cukup populer adalah Rainmeter. Cuma, di komputer saya, Rainmeter berat..! Di Linux, Samurize mirip dengan Conky.

Aplikasi ini relatif ringan untuk komputer saya. Samurize cuma menggunakan 5-6 MB memory RAM. Tergantung yang ditampilkan juga sih...

Yang saya suka dari Samurize adalah Config tool. Kita bisa membuat sendiri tema atau istilahnya config yang mau ditampilkan di desktop kita dengan mudah. Config toolini sifatnya WYSIWYG (what you see is what you get). Jadi saya gak perlu pusing dengan kode-kode yang tidak saya pahami.

Dengan sedikit kretivitas, kita bisa membuat desktop komputer kita lebih menarik. Contohnya seperti punya saya ini

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Yang tertarik dengan software ini bisa mendownloadnya di sini. Bagaimana caranya membuat config? Silakan dipelajari sendiri ya... Gampang kok. Atau main ke sini aja :D


Serious Samurize atau singkatnya Samurize adalah salah satu software monitoring yang free. Fungsinya untuk menampilkan informasi system yang sedang bekerja pada komputer kita secara realtime dalam bentuk grafis di desktop kita. Kita bisa melihat aktivitas CPU load, RAM yang dipakai, kapasitas HDD, dan masih banyak lagi.

Software semacam ini yang cukup populer adalah Rainmeter. Cuma, di komputer saya, Rainmeter berat..! Di Linux, Samurize mirip dengan Conky.

Aplikasi ini relatif ringan untuk komputer saya. Samurize cuma menggunakan 5-6 MB memory RAM. Tergantung yang ditampilkan juga sih...

Yang saya suka dari Samurize adalah Config tool. Kita bisa membuat sendiri tema atau istilahnya config yang mau ditampilkan di desktop kita dengan mudah. Config toolini sifatnya WYSIWYG (what you see is what you get). Jadi saya gak perlu pusing dengan kode-kode yang tidak saya pahami.

Dengan sedikit kretivitas, kita bisa membuat desktop komputer kita lebih menarik. Contohnya seperti punya saya ini

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Yang tertarik dengan software ini bisa mendownloadnya di sini. Bagaimana caranya membuat config? Silakan dipelajari sendiri ya... Gampang kok. Atau main ke sini aja :D

7.01.2010

Adobe Image Ready mungkin jadi pilihan paling populer untuk bikin animasi .GIF. Nah, bagaimana dengan pengguna Freeware? Pemakai Linux?
Kita bisa pake GIMP (GNU Image Manipulation Program). Yup... Software open source padanan Photoshop ini bisa bikin animasi GIF. Emmm... tulisan ini pernah saya tulis di thread sebuah forum terbesar di Indonesia (kalo ada yang pernah baca, gak usah protes ye...). Ada 2 alternatif yang bisa kita gunakan
a. Dengan plug-in GAP (Gimp Animation Package)
b. Tanpa plug-in
Plugin GAP merupakan plugin tambahan buat GIMP untuk membuat animasi GIF yang lebih advance. Menurut saya cukup rumit membuat animasi dengan plugin ini, apalagi untuk pemula.
Membuat animasi GIF tanpa plugin pun bisa. Konsepnya sederhana, buat 2 layer atau lebih, kemudian simpan dengan ekstensi *.gif sebagai animasi (nanti ada pilihan Save as Animation). Atau kita manfaatkan Script-Fu yang ada di menu Filter > Animations (GIMP versi 2.6.x)
Berikut ini saya buat tutorial membuat animasi 2 gambar atau lebih tampil bergantian, seperti berikut ini
1. Siapkan gambar yang mau dipasang, foto sendiri, tokoh idola, atau apapun lah... yang penting lebih dari 1 gambar
2. Buat New image (File > New), set ukurannya (kalo mau digunakan jadi avatar maksimal 100x100 px)
3. Buka gambar-gambar yang sudah disiapkan => File > Open as Layers > pilih gambar
4. Sesuaikan ukuran layer dengan ukuran background image (yang kita bikin pertama kali itu lho...) Bisa pake Layer > Scale Layer, atau di-crop, dipotong pake selection tool, dst
5. Setelah menyesuaikan ukuran layer, delete atau sembunyikan background image-nya (sudah gak dibutuhkan)
6. Filters > Animation > Optimize (for GIF) => biar ukuran file-nya lebih kecil (ukuran besarnya file, bukan ukuran gambar). Nanti muncul jendela baru
7. Kalo pengen preview => Filters > Animation > Playback
 
8. Terlalu cepat? Ubah fps-nya. Klik kanan Layer > Edit layer attributes atau klik layer 2 kali, lalu ubah tulisan 100ms menjadi 1000ms (1 detik) atau terserah mau kita
9. Simpan dengan ekstensi *.gif
Pada jendela export file, pilih Save as Animation, klik Export
Akan muncul jendela lagi, dan perhatikan bagian Delay between frames when unspecified
Kalo tadi belum diubah fps-nya, kita bisa set kecepatannya dari situ dan check (contreng) Use delay entered above..dst...
Selamat mencoba...
Kita juga bisa membuat yang seperti ini dengan GIMP

Adobe Image Ready mungkin jadi pilihan paling populer untuk bikin animasi .GIF. Nah, bagaimana dengan pengguna Freeware? Pemakai Linux?
Kita bisa pake GIMP (GNU Image Manipulation Program). Yup... Software open source padanan Photoshop ini bisa bikin animasi GIF. Emmm... tulisan ini pernah saya tulis di thread sebuah forum terbesar di Indonesia (kalo ada yang pernah baca, gak usah protes ye...). Ada 2 alternatif yang bisa kita gunakan
a. Dengan plug-in GAP (Gimp Animation Package)
b. Tanpa plug-in
Plugin GAP merupakan plugin tambahan buat GIMP untuk membuat animasi GIF yang lebih advance. Menurut saya cukup rumit membuat animasi dengan plugin ini, apalagi untuk pemula.
Membuat animasi GIF tanpa plugin pun bisa. Konsepnya sederhana, buat 2 layer atau lebih, kemudian simpan dengan ekstensi *.gif sebagai animasi (nanti ada pilihan Save as Animation). Atau kita manfaatkan Script-Fu yang ada di menu Filter > Animations (GIMP versi 2.6.x)
Berikut ini saya buat tutorial membuat animasi 2 gambar atau lebih tampil bergantian, seperti berikut ini
1. Siapkan gambar yang mau dipasang, foto sendiri, tokoh idola, atau apapun lah... yang penting lebih dari 1 gambar
2. Buat New image (File > New), set ukurannya (kalo mau digunakan jadi avatar maksimal 100x100 px)
3. Buka gambar-gambar yang sudah disiapkan => File > Open as Layers > pilih gambar
4. Sesuaikan ukuran layer dengan ukuran background image (yang kita bikin pertama kali itu lho...) Bisa pake Layer > Scale Layer, atau di-crop, dipotong pake selection tool, dst
5. Setelah menyesuaikan ukuran layer, delete atau sembunyikan background image-nya (sudah gak dibutuhkan)
6. Filters > Animation > Optimize (for GIF) => biar ukuran file-nya lebih kecil (ukuran besarnya file, bukan ukuran gambar). Nanti muncul jendela baru
7. Kalo pengen preview => Filters > Animation > Playback
 
8. Terlalu cepat? Ubah fps-nya. Klik kanan Layer > Edit layer attributes atau klik layer 2 kali, lalu ubah tulisan 100ms menjadi 1000ms (1 detik) atau terserah mau kita
9. Simpan dengan ekstensi *.gif
Pada jendela export file, pilih Save as Animation, klik Export
Akan muncul jendela lagi, dan perhatikan bagian Delay between frames when unspecified
Kalo tadi belum diubah fps-nya, kita bisa set kecepatannya dari situ dan check (contreng) Use delay entered above..dst...
Selamat mencoba...
Kita juga bisa membuat yang seperti ini dengan GIMP

1.14.2010

Akhirnya saya bisa memanfaatkan Enlightment DR17 (E17) buat desktop, setelah sedikit 'memaksa' xorg.conf menampilkan resolusi yang saya mau. He..he.. Habisnya, konfigurasi default dari Zenwalk di komputer saya (xorg.conf-vesa) tidak bersahabat dengan E17 ini.

Pamer screenshots dulu ah....


Sebelumnya saya pernah mem-posting artikel tentang window manager enlightenment DR16 (E16). E17 ini adalah kelanjutan project e16, yang nampaknya bakal mengarah menjadi desktop environment. Berbagai fitur layaknya DE disediakan di E17 ini. Memang belum selengkap lainnya, tapi project ini masih terus berkembang. Bahasa mereka, Under Heavy Development. Dan yang saya gunakan ini tentu saja belum stable.

Yang membuat saya kesengsem dengan E17 ini adalah keindahan grafisnya yang aduhai tapi luar biasa ringan. Keren banget pokoknya. Dan nampaknya, kelak E17 akan menjadi pilihan utama distro-distro lightweight. Hmm.. kita tunggu saja.




Kalau anda memakai Zenwalk, anda bisa mendownload E17 di http://packages.zenwalk.org/?b=/extra/e&zversion=current. Cukup download e17_base, e17_libs, dan imlib2, dan E17 sudah bisa kita gunakan. Paket lainnya sebenarnya opsional, tapi cukup penting juga agar E17 lebih keren. O ya, jangan lupa sekalian download gnome-menus untuk memunculkan menu applications di start menu E17 ini. Kecuali kalau anda memakai KDE. KDE menu bisa menggantikan gnome-menus tadi.

Artikel ini mungkin bisa lebih membantu kalau anda memang tertarik menginstall Enlightenment DR17 yang keren ini.

Akhirnya saya bisa memanfaatkan Enlightment DR17 (E17) buat desktop, setelah sedikit 'memaksa' xorg.conf menampilkan resolusi yang saya mau. He..he.. Habisnya, konfigurasi default dari Zenwalk di komputer saya (xorg.conf-vesa) tidak bersahabat dengan E17 ini.

Pamer screenshots dulu ah....


Sebelumnya saya pernah mem-posting artikel tentang window manager enlightenment DR16 (E16). E17 ini adalah kelanjutan project e16, yang nampaknya bakal mengarah menjadi desktop environment. Berbagai fitur layaknya DE disediakan di E17 ini. Memang belum selengkap lainnya, tapi project ini masih terus berkembang. Bahasa mereka, Under Heavy Development. Dan yang saya gunakan ini tentu saja belum stable.

Yang membuat saya kesengsem dengan E17 ini adalah keindahan grafisnya yang aduhai tapi luar biasa ringan. Keren banget pokoknya. Dan nampaknya, kelak E17 akan menjadi pilihan utama distro-distro lightweight. Hmm.. kita tunggu saja.




Kalau anda memakai Zenwalk, anda bisa mendownload E17 di http://packages.zenwalk.org/?b=/extra/e&zversion=current. Cukup download e17_base, e17_libs, dan imlib2, dan E17 sudah bisa kita gunakan. Paket lainnya sebenarnya opsional, tapi cukup penting juga agar E17 lebih keren. O ya, jangan lupa sekalian download gnome-menus untuk memunculkan menu applications di start menu E17 ini. Kecuali kalau anda memakai KDE. KDE menu bisa menggantikan gnome-menus tadi.

Artikel ini mungkin bisa lebih membantu kalau anda memang tertarik menginstall Enlightenment DR17 yang keren ini.

1.13.2010

Arora adalah salah satu aplikasi internet browser. Konon, browser ini lebih ringan dan lebih cepat. Well, saya tidak bisa membuktikan kecepatannya, wong komputer saya tidak terkoneksi internet. Saya butuh browser cuma buat buka file HTML dan sejenisnya. Kalau anda pengen tahu lebih banyak soal browser ini, silakan cek di sini

Browser ini cross platform, artinya tersedia tidak hanya untuk satu OS saja, bahkan untuk sistem operasi yang tidak populer. Untuk linux, tersedia source code (tarball) yang bisa kita compile. Nah, ini yang cukup menarik buat saya.

Tidak seperti kebanyakan source code yang menggunakan cara lama dengan tiga jurus ampuh ./configure && make && make install, untuk meng-compile source code Arora, kita butuh Qt 4.5. Jadi bukan GCC yang digunakan.


Anda bisa baca di file README,
Arora uses the qmake build system. If you already have Qt 4.5 or newer on your system building is as easy as running the command 'qmake' and then 'make' or 'nmake' on Windows.
For more detailed information see http://code.google.com/p/arora/wiki/source?tm=4


Jadi, kita memakai 3 jurus yang sedikit berbeda
qmake
make
make install

Waktu kompilasinya cukup lama di komputer saya. Sekitar 40 menitan. Melihat tampilannya, sekilas mirip Mozilla Firefox. Tapi juga kaya Opera, karena pake Qt. Layak dicoba kok.

Arora adalah salah satu aplikasi internet browser. Konon, browser ini lebih ringan dan lebih cepat. Well, saya tidak bisa membuktikan kecepatannya, wong komputer saya tidak terkoneksi internet. Saya butuh browser cuma buat buka file HTML dan sejenisnya. Kalau anda pengen tahu lebih banyak soal browser ini, silakan cek di sini

Browser ini cross platform, artinya tersedia tidak hanya untuk satu OS saja, bahkan untuk sistem operasi yang tidak populer. Untuk linux, tersedia source code (tarball) yang bisa kita compile. Nah, ini yang cukup menarik buat saya.

Tidak seperti kebanyakan source code yang menggunakan cara lama dengan tiga jurus ampuh ./configure && make && make install, untuk meng-compile source code Arora, kita butuh Qt 4.5. Jadi bukan GCC yang digunakan.


Anda bisa baca di file README,
Arora uses the qmake build system. If you already have Qt 4.5 or newer on your system building is as easy as running the command 'qmake' and then 'make' or 'nmake' on Windows.
For more detailed information see http://code.google.com/p/arora/wiki/source?tm=4


Jadi, kita memakai 3 jurus yang sedikit berbeda
qmake
make
make install

Waktu kompilasinya cukup lama di komputer saya. Sekitar 40 menitan. Melihat tampilannya, sekilas mirip Mozilla Firefox. Tapi juga kaya Opera, karena pake Qt. Layak dicoba kok.

11.20.2009

Mungkin ada kalanya kita mengalami kejadian, file secara tidak sengaja terhapus. Entah karena ngantuk, salah pencet, karena virus, terformat, dan sebagainya. Kalau file tersebut bukan file yang penting sih tidak masalah. Tapi kalau file tersebut sangat penting (skripsi atau tugas kantor misalnya) atau hasil download berhari-hari :D rasanya seperti kena musibah :(

Nah, bagaimana jika kejadian itu menimpa kita? Jangan khawatir. Banyak sekali software (dan free tentu saja) yang bisa memabntu kita merecovery file yang terhapus tersebut. Diantaranya yaitu Recuva.


Recuva merupakan salah satu produk Piriform, yang juga pengembang software cleaner populer, CCleaner. Recuva memiliki beberapa fitur, antara lain:
  • Recovery file yang terhapus.
  • Recovery file di harddrive yang terformat atau rusak.
  • Recovery email yang terhapus (jika memakai email client semacam Ms Outlook, Thunderbird, dll)
  • Recovery file Ms. Word yang belum tersimpan
  • Quick start wizard, fasilitas yang memudahkan pemula atau butuh cepat
  • Fasilitas Deep scan yang menghasilkan temuan yang lebih banyak ketimbang standard-nya
  • Menghapus file yang kita inginkan untuk benar-benar tidak bisa direcovery




Bagaimana cara kerjanya? Recuva akan melakukan proses scanning pada harddrive atau partisi dimana file yang terhapus itu berasal. Setelah itu Recuva akan menampilkan beberapa 'jejak' file yang pernah singgah di harddrive. Ada yang kondisinya excellent (bisa direcovery), ada juga yang unrecoverable.


Jika file yang kita cari kondisinya excellent, Alhamdulillah. File tersebut masih bisa diselamatkan. Tapi kalau unrecoverable, ya alamat harus direlakan saja. Biasanya ini terjadi jika harddrive sudah terisi file lain, yang artinya 'jejak' file yang terhapus tersebut tertimpa file lain. Makanya, jika file kita terhapus, jangan mengisi harddrive dengan file apapun sebelum melakukan recovery.


Nah sekarang tinggal mencontreng file yang kita cari, dan klik recover. Kita tinggal memilih tempat yang aman untuk menyimpan file kita. Selamat mencoba.

Download Recuva di sini

Mungkin ada kalanya kita mengalami kejadian, file secara tidak sengaja terhapus. Entah karena ngantuk, salah pencet, karena virus, terformat, dan sebagainya. Kalau file tersebut bukan file yang penting sih tidak masalah. Tapi kalau file tersebut sangat penting (skripsi atau tugas kantor misalnya) atau hasil download berhari-hari :D rasanya seperti kena musibah :(

Nah, bagaimana jika kejadian itu menimpa kita? Jangan khawatir. Banyak sekali software (dan free tentu saja) yang bisa memabntu kita merecovery file yang terhapus tersebut. Diantaranya yaitu Recuva.


Recuva merupakan salah satu produk Piriform, yang juga pengembang software cleaner populer, CCleaner. Recuva memiliki beberapa fitur, antara lain:
  • Recovery file yang terhapus.
  • Recovery file di harddrive yang terformat atau rusak.
  • Recovery email yang terhapus (jika memakai email client semacam Ms Outlook, Thunderbird, dll)
  • Recovery file Ms. Word yang belum tersimpan
  • Quick start wizard, fasilitas yang memudahkan pemula atau butuh cepat
  • Fasilitas Deep scan yang menghasilkan temuan yang lebih banyak ketimbang standard-nya
  • Menghapus file yang kita inginkan untuk benar-benar tidak bisa direcovery




Bagaimana cara kerjanya? Recuva akan melakukan proses scanning pada harddrive atau partisi dimana file yang terhapus itu berasal. Setelah itu Recuva akan menampilkan beberapa 'jejak' file yang pernah singgah di harddrive. Ada yang kondisinya excellent (bisa direcovery), ada juga yang unrecoverable.


Jika file yang kita cari kondisinya excellent, Alhamdulillah. File tersebut masih bisa diselamatkan. Tapi kalau unrecoverable, ya alamat harus direlakan saja. Biasanya ini terjadi jika harddrive sudah terisi file lain, yang artinya 'jejak' file yang terhapus tersebut tertimpa file lain. Makanya, jika file kita terhapus, jangan mengisi harddrive dengan file apapun sebelum melakukan recovery.


Nah sekarang tinggal mencontreng file yang kita cari, dan klik recover. Kita tinggal memilih tempat yang aman untuk menyimpan file kita. Selamat mencoba.

Download Recuva di sini

11.05.2009

Sudah lebih dari sebulan saya download Zenwalk stable versi terbaru, Zenwalk 6.2. Tapi baru Sabtu kemarin saya install ke komputer (masih bersanding dengan Windows). Kali ini saya tidak kepikiran buat nge-mix Zenwalk dengan Wolvix. Biar bisa lebih hemat kapasitas harddisk.

Apa saja perubahan dan perbaikan yang dibawa Zenwalk 6.2? Berikut ini review asal-asalan dari saya :D. Sebelumnya harap dimaklumi karena komputer saya tidak pernah terhubung dengan internet (makanya saya tidak tahu menahu tentang koneksi internet) dan spec yang pas-pasan (jadi saya juga tidak tahu menahu masalah support tidaknya dengan hardware high-end).


Oke, langsung saja yang pertama, ada perbaikan di desktop manager XFCE. Di versi 6.0, ada bug di resolusi monitor. Saya berkesimpulan, XFCE-nya yang tidak beres. Sebab, di komputer warnet, saya install KDE dan tidak ada masalah dengan resolusi. Zenwalk 6.0 selalu menampilkan resolusi default yang tidak cocok dengan monitor saya (terlalu besar), dan solusi satu-satunya adalah mengedit file /etc/X11/xorg.conf. Bug ini terselesaikan di versi 6.2.

Kedua, Zenwalk 6.2 sudah men-support format file system ext4. Konon ext4 lebih cepat ketimbang pendahulu-pendahulunya, ext2 dan ext3. Saat ini hampir seluruh distro linux sudah mendukung format ini. Ubuntu sudah mensupport ext4 sejak versi 9.04 (bulan kemarin Ubuntu baru saja merilis versi 9.10).

Ketiga, Zenwalk 6.2 mulai menggunakan paket *.txz dan *.tlz untuk paket installernya, bersama dengan paket *.tgz. Paket .txz dan .tlz notabenenya sama dengan .tgz. Hanya saja paket baru ini menggunakan lzma compression menggantikan gzip compression. Lzma membuat paket terkompres menjadi lebih kecil sehingga cd image Zenwalk 6.2 berukuran lebih kecil (hanya 490 MB).

Keempat, waktu booting terasa lebih cepat, tapi entah kenapa waktu shutdown-nya malah jadi lebih lama. Saat shutdown atau reboot, pasti mandeg agak lama di proses updating shared library. Selebihnya lancar-lancar saja.

Kelima, ada fasilitas disk management. Ee... sebenarnya di versi sebelumnya sudah ada, cuma saya baru tahu. T_T Ini fasilitas bawaan XFCE. Disk management ini bukan untuk partisi atau format volume. Fasilitas ini memudahkan kita memuat (mounting) partisi selain /root (dan swap tentunya). Jadi saya tidak perlu lagi mengedit fstab. Disk management membuat partisi lain di-mount di /media sehingga permissionnya otomatis read and write, dan partisi-partisi tersebut otomatis dimuat pas start-up.

Cukup sekian dulu review-nya. Ini screenshot desktop saya saat ini.


Aksesoris-nya cuma wbar, conky, dan analog clock dari screenlets (biar nggak usah mengaktifkan composite). Settingan conky-nya copy paste punya orang, dengan sedikit penyesuaian pastinya. Googling aja dengan keywod conky configuration.

Ever tried Zen computing?

Sudah lebih dari sebulan saya download Zenwalk stable versi terbaru, Zenwalk 6.2. Tapi baru Sabtu kemarin saya install ke komputer (masih bersanding dengan Windows). Kali ini saya tidak kepikiran buat nge-mix Zenwalk dengan Wolvix. Biar bisa lebih hemat kapasitas harddisk.

Apa saja perubahan dan perbaikan yang dibawa Zenwalk 6.2? Berikut ini review asal-asalan dari saya :D. Sebelumnya harap dimaklumi karena komputer saya tidak pernah terhubung dengan internet (makanya saya tidak tahu menahu tentang koneksi internet) dan spec yang pas-pasan (jadi saya juga tidak tahu menahu masalah support tidaknya dengan hardware high-end).


Oke, langsung saja yang pertama, ada perbaikan di desktop manager XFCE. Di versi 6.0, ada bug di resolusi monitor. Saya berkesimpulan, XFCE-nya yang tidak beres. Sebab, di komputer warnet, saya install KDE dan tidak ada masalah dengan resolusi. Zenwalk 6.0 selalu menampilkan resolusi default yang tidak cocok dengan monitor saya (terlalu besar), dan solusi satu-satunya adalah mengedit file /etc/X11/xorg.conf. Bug ini terselesaikan di versi 6.2.

Kedua, Zenwalk 6.2 sudah men-support format file system ext4. Konon ext4 lebih cepat ketimbang pendahulu-pendahulunya, ext2 dan ext3. Saat ini hampir seluruh distro linux sudah mendukung format ini. Ubuntu sudah mensupport ext4 sejak versi 9.04 (bulan kemarin Ubuntu baru saja merilis versi 9.10).

Ketiga, Zenwalk 6.2 mulai menggunakan paket *.txz dan *.tlz untuk paket installernya, bersama dengan paket *.tgz. Paket .txz dan .tlz notabenenya sama dengan .tgz. Hanya saja paket baru ini menggunakan lzma compression menggantikan gzip compression. Lzma membuat paket terkompres menjadi lebih kecil sehingga cd image Zenwalk 6.2 berukuran lebih kecil (hanya 490 MB).

Keempat, waktu booting terasa lebih cepat, tapi entah kenapa waktu shutdown-nya malah jadi lebih lama. Saat shutdown atau reboot, pasti mandeg agak lama di proses updating shared library. Selebihnya lancar-lancar saja.

Kelima, ada fasilitas disk management. Ee... sebenarnya di versi sebelumnya sudah ada, cuma saya baru tahu. T_T Ini fasilitas bawaan XFCE. Disk management ini bukan untuk partisi atau format volume. Fasilitas ini memudahkan kita memuat (mounting) partisi selain /root (dan swap tentunya). Jadi saya tidak perlu lagi mengedit fstab. Disk management membuat partisi lain di-mount di /media sehingga permissionnya otomatis read and write, dan partisi-partisi tersebut otomatis dimuat pas start-up.

Cukup sekian dulu review-nya. Ini screenshot desktop saya saat ini.


Aksesoris-nya cuma wbar, conky, dan analog clock dari screenlets (biar nggak usah mengaktifkan composite). Settingan conky-nya copy paste punya orang, dengan sedikit penyesuaian pastinya. Googling aja dengan keywod conky configuration.

Ever tried Zen computing?

10.22.2009

Saya pernah buat posting di blog ini (copy paste dari ebsoft.web.id) tentang lisensi gratis Ashampoo Office 2008. Info dari ebsoft juga, baru-baru ini ada bagi-bagi lisensi gratis Ashampoo Burning Studio 2009. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Software full version, legal pula. Kapan lagi, iya kan..?

Untuk mendapatkan lisensi gratis tersebut, saya perlu registrasi/ mendaftarkan email ke Ashampoo. Tapi gara-gara registrasi itu, saya mendapatkan email dari Ashampoo berupa link download gratis 5 software buatan mereka, beserta license key-nya. Wah...


Katanya sih, ini merupakan special gift untuk merayakan 10 tahun Ashampoo. Lumayan... Meskipun tidak pernah beli software dari mereka, eh... dapet gratisan lagi... he.. he..

Sekian saja para pembaca. Saya memang sekedar cerita. Saya tidak mungkin memberikan link-linknya disini karena (mungkin) harus diakses lewat email. Setidaknya, ya tidak patut lah...

Saya pernah buat posting di blog ini (copy paste dari ebsoft.web.id) tentang lisensi gratis Ashampoo Office 2008. Info dari ebsoft juga, baru-baru ini ada bagi-bagi lisensi gratis Ashampoo Burning Studio 2009. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Software full version, legal pula. Kapan lagi, iya kan..?

Untuk mendapatkan lisensi gratis tersebut, saya perlu registrasi/ mendaftarkan email ke Ashampoo. Tapi gara-gara registrasi itu, saya mendapatkan email dari Ashampoo berupa link download gratis 5 software buatan mereka, beserta license key-nya. Wah...


Katanya sih, ini merupakan special gift untuk merayakan 10 tahun Ashampoo. Lumayan... Meskipun tidak pernah beli software dari mereka, eh... dapet gratisan lagi... he.. he..

Sekian saja para pembaca. Saya memang sekedar cerita. Saya tidak mungkin memberikan link-linknya disini karena (mungkin) harus diakses lewat email. Setidaknya, ya tidak patut lah...

Sebagian besar kita, pengguna komputer (windows), ketika menguninstall sebuah software biasanya cukup dengan mengeksekusi file uninstall bawaan software tersebut. Atau lewat fasilitas Add/Remove Program di Control Panel. Tapi dengan cara seperti ini, masih ada jejak yang tersisa dari software yang kita uninstall.

Ada baiknya kita menguninstall software sampai bersih ke akar-akarnya. Kenapa begitu? Ini akan menghindarkan error, crash (misalnya ketika kita menginstall software versi yang lebih baru dari yang sudah ada di komputer kita), atau untuk mencurangi software trial version (begitu expired, uninstall trus install lagi... he..he..).

Untuk keperluan ini kita bisa menggunakan Revo Uninstaller. Sebuah software kecil tapi sangat bermanfaat. Dan yang pasti Free alias gratis.


Ada 4 mode yang bisa kita jalankan dengan Revo uninstaller. Built in, Safe, Moderate, dan Advanced. Pada mode Built-in, RevoUi kan menguninstall program layaknya Remove Program di Control Panel. Pada mode Safe, RevoUi akan mencari file-file sisa program yang tidak ikut terhapus saat proses uninstall dan dianggap aman bila dihapus. Mode Moderate, mode defaultnya RevoUi, akan mencari file-file sisa di kebanyakan tempat yang digunakan software-software menyimpan informasinya di komputer. Sedangkan pada mode Advanced, RevoUi akan mencari semua file sisa yang ditinggalkan suatu software di komputer. Mode ini paling bersih tapi juga paling lambat.


Pada mode defaultnya RevoUi. Moderate, ada 4 tahap yang dilakukan software ini. Membuat system restore point, menganalisa data software yang akan diuninstall, kemudian mengeksekusi file uninstall bawaan software yang akan diuninstall (jika ada), dan terakhir melacak file-file sisa software yang telah diuninstall.


Setelah melacak file-file sisa, RevoUi akan menyajikan hasilnya. Pertama, biasanya file-file yang teringgal di registry. kita cukup mencentang (check) pada file yang di bold, kemudian delete. Itu jika kita ingin menghapus file sisa di registry. Jika tidak, pilih next (skip). Lalu jika masih ada file sisa lain, umpamanya di start menu, RevoUi akan menawarkan kepada kita untuk dihapus atau tidak. Finish.





Selain fungsi utamanya sebagai clean uninstaller, RevoUi juga menyediakan beberapa tools yang sangat berguna untuk mendukung kinerja komputer. Misalnya, ada autorun manager. Kita bisa menghapus atau mendisable aplikasi yang autorun tapi tidak penting sehingga waktu start-up windows bisa lebih cepat.

Selain itu ada juga fasilitas cleaner untuk bersih-bersih komputer dari file-file yang tidak bermanfaat. Lumayan, bisa menambah space harddisk (walaupun tidak banyak..).



Revo Uninstaller bisa kita download di website mereka http://www.revouninstaller.com/revo_uninstaller_free_download.html

Sebagian besar kita, pengguna komputer (windows), ketika menguninstall sebuah software biasanya cukup dengan mengeksekusi file uninstall bawaan software tersebut. Atau lewat fasilitas Add/Remove Program di Control Panel. Tapi dengan cara seperti ini, masih ada jejak yang tersisa dari software yang kita uninstall.

Ada baiknya kita menguninstall software sampai bersih ke akar-akarnya. Kenapa begitu? Ini akan menghindarkan error, crash (misalnya ketika kita menginstall software versi yang lebih baru dari yang sudah ada di komputer kita), atau untuk mencurangi software trial version (begitu expired, uninstall trus install lagi... he..he..).

Untuk keperluan ini kita bisa menggunakan Revo Uninstaller. Sebuah software kecil tapi sangat bermanfaat. Dan yang pasti Free alias gratis.


Ada 4 mode yang bisa kita jalankan dengan Revo uninstaller. Built in, Safe, Moderate, dan Advanced. Pada mode Built-in, RevoUi kan menguninstall program layaknya Remove Program di Control Panel. Pada mode Safe, RevoUi akan mencari file-file sisa program yang tidak ikut terhapus saat proses uninstall dan dianggap aman bila dihapus. Mode Moderate, mode defaultnya RevoUi, akan mencari file-file sisa di kebanyakan tempat yang digunakan software-software menyimpan informasinya di komputer. Sedangkan pada mode Advanced, RevoUi akan mencari semua file sisa yang ditinggalkan suatu software di komputer. Mode ini paling bersih tapi juga paling lambat.


Pada mode defaultnya RevoUi. Moderate, ada 4 tahap yang dilakukan software ini. Membuat system restore point, menganalisa data software yang akan diuninstall, kemudian mengeksekusi file uninstall bawaan software yang akan diuninstall (jika ada), dan terakhir melacak file-file sisa software yang telah diuninstall.


Setelah melacak file-file sisa, RevoUi akan menyajikan hasilnya. Pertama, biasanya file-file yang teringgal di registry. kita cukup mencentang (check) pada file yang di bold, kemudian delete. Itu jika kita ingin menghapus file sisa di registry. Jika tidak, pilih next (skip). Lalu jika masih ada file sisa lain, umpamanya di start menu, RevoUi akan menawarkan kepada kita untuk dihapus atau tidak. Finish.





Selain fungsi utamanya sebagai clean uninstaller, RevoUi juga menyediakan beberapa tools yang sangat berguna untuk mendukung kinerja komputer. Misalnya, ada autorun manager. Kita bisa menghapus atau mendisable aplikasi yang autorun tapi tidak penting sehingga waktu start-up windows bisa lebih cepat.

Selain itu ada juga fasilitas cleaner untuk bersih-bersih komputer dari file-file yang tidak bermanfaat. Lumayan, bisa menambah space harddisk (walaupun tidak banyak..).



Revo Uninstaller bisa kita download di website mereka http://www.revouninstaller.com/revo_uninstaller_free_download.html